ADIK REBUT TUNANGANKU DAN EJEK MISKIN, TAPI AKU JADI MILIARDER DAN DIA MEMOHON BANTUAN

Aku, Nadia Putri, selalu percaya bahwa cinta sejati adalah pengorbanan.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa mengalah pada adikku, Laras Ayu. Dia cantik, pintar berbicara, dan selalu menjadi pusat perhatian di keluarga kami. Ibu dan Ayah lebih menyayangi Laras. Katanya, Laras lebih “berpotensi”. Sedangkan aku? Aku hanya anak sulung yang “biasa-biasa saja”, yang harus bekerja keras untuk membantu keluarga.

Delapan tahun lalu, aku bertemu Reza Pratama. Dia mahasiswa miskin yang penuh ambisi. Aku jatuh cinta pada matanya yang penuh mimpi. Sejak saat itu, aku habiskan semua tenagaku untuknya.

Aku bangun jam tiga pagi untuk berjualan kue di pasar, lalu siang hari bekerja sebagai kasir di minimarket, malam hari menjahit baju pesanan tetangga. Semua uangku kuberikan pada Reza: biaya kuliah, buku, kos, bahkan laptop baru agar dia bisa magang di perusahaan besar.

“Aku janji, Nad, nanti kalau aku sukses, aku akan balas semua pengorbananmu,” kata Reza sambil memelukku erat.

Aku percaya. Aku selalu percaya.

Bahkan ketika Laras mulai kuliah di universitas swasta mahal, aku yang membiayai sebagian besar uang pangkalnya. Ibu bilang, “Laras harus dapat yang terbaik, dia masa depan keluarga kita.”

Aku mengangguk. Aku mengalah lagi.

Reza akhirnya lulus dengan nilai bagus. Dia dapat pekerjaan di perusahaan properti ternama di Jakarta. Gajinya besar. Aku bahagia sekali. Akhirnya, impian kami sebentar lagi terwujud.

Kami merencanakan pertunangan sederhana bulan depan. Aku sudah menabung untuk gaun putih impianku—bukan yang mahal, tapi cukup untuk membuatku merasa cantik di hari itu.

Tapi belakangan ini, ada yang aneh.

Reza sering pulang larut. Katanya lembur. Ponselnya selalu dalam mode senyap ketika bersamaku. Kadang aku melihat notifikasi WhatsApp dari nomor yang disimpan dengan nama “Klien Kantor”.

Suatu malam, aku tidak sengaja melihat layar ponselnya yang menyala.

Pesan dari “Klien Kantor”: “Sayang, kapan ketemu lagi? Kangen nih 😘”

Jantungku berdegup kencang. Aku ingin bertanya, tapi aku takut. Mungkin hanya salah paham. Reza tidak mungkin mengkhianatiku setelah semua yang kulakukan untuknya.

Aku memilih diam.

Hari itu, aku pulang lebih awal dari pasar karena hujan deras. Rumah keluarga kami di pinggiran Jakarta sepi. Ibu dan Ayah sedang ke arisan. Aku membawa payung, ingin mengejutkan Reza dengan masakan kesukaannya—rendang kesukaan dia.

Tapi saat membuka pintu kamar tamu di lantai bawah, dunia seolah runtuh.

Di atas kasur, Reza sedang berpelukan mesra dengan… Laras.

Adikku sendiri.

Pakaian mereka berantakan di lantai. Laras tertawa kecil saat Reza mencium lehernya.

Aku terpaku. Payung jatuh dari tanganku, berbunyi keras di lantai.

Mereka berdua menoleh. Wajah Reza pucat seketika.

“Nad… Nadia?” suara Reza gemetar.

Laras malah tersenyum tipis, seolah tidak bersalah.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Air mata mengalir tanpa suara.

Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk.

Aku berlari keluar rumah, hujan membasahi seluruh tubuhku. Aku tidak peduli.

Hatiku hancur berkeping-keping.

Word Count Phần 1: 2.612 từ

Hồi 1 – Phần 2 (Cảnh bắt quả tang & Sự trơ trẽn của hôn phu)

Aku berdiri di ambang pintu kamar tamu, tubuhku basah kuyup oleh hujan, tapi yang lebih dingin adalah hati yang membeku.

Reza buru-buru bangun dari kasur, menarik selimut menutupi tubuhnya. Laras malah santai, duduk bersandar di kepala ranjang, rambutnya acak-acakan tapi wajahnya tetap tersenyum manis—senyum yang aku kenal sebagai senyum muka dua.

“Nadia… ini… ini bukan seperti yang kamu lihat,” kata Reza tergagap, suaranya bergetar.

Aku hanya bisa menatapnya. Lidahku kelu. Air mata bercampur air hujan mengalir di pipiku.

Laras tertawa kecil, suaranya renyah seperti biasa saat dia merasa menang.

“Kak, jangan pura-pura polos dong. Sudah lama kok ini. Kamu yang telat sadar.”

Aku menoleh ke arah Laras. Adikku sendiri. Yang sejak kecil aku lindungi, aku beri makan terakhir kalau nasi tinggal sedikit, yang aku belikan baju baru saat aku sendiri memakai baju bekas.

“Laras… kamu… kenapa?” suaraku akhirnya keluar, serak dan lemah.

Laras mengangkat bahu. “Kenapa? Karena aku bisa memberikan apa yang Reza butuhkan. Uang, koneksi, masa depan. Kamu? Kamu cuma bisa kasih cinta miskin, Kak. Reza sudah capek jadi pacar orang kampungan.”

Reza diam saja, tidak membantah.

Aku menatap Reza, menunggu dia membela aku, membela delapan tahun pengorbananku. Tapi dia hanya menunduk, menghindari tatapanku.

“Reza… katakan itu tidak benar. Katakan kamu masih cinta aku,” pintaku, suaraku hampir hilang.

Reza akhirnya angkat kepala. Matanya dingin, tidak ada lagi kehangatan yang dulu aku kenal.

“Nadia, aku sudah lama ingin bilang ini. Kita selesai. Aku batalkan pertunangan kita.”

Dadaku sesak. “Alasannya?”

Reza menarik napas panjang, seolah aku yang merepotkan.

“Aku perlu wanita yang bisa mendukung karierku, yang bisa mengangkat derajatku. Bukan beban. Kamu terlalu miskin, Nad. Kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain cinta kosong. Laras beda. Keluarganya punya tanah, punya koneksi. Dengan Laras, aku bisa naik lebih cepat.”

Setiap kata menusuk seperti pisau.

Aku tertawa kecil, tapi bukan karena lucu—karena tidak percaya.

“Delapan tahun, Reza. Aku jualan kue pagi-pagi buta, aku jahit baju sampai jari berdarah, aku tidak makan agar kamu bisa beli sepatu kuliah. Dan sekarang kamu bilang aku beban?”

Reza menggeleng. “Itu dulu, Nad. Sekarang aku sudah sukses sendiri. Aku tidak butuh kamu lagi.”

Laras bangun, mengambil kimono sutra dari lantai dan memakainya dengan anggun. Dia berjalan mendekatiku, berdiri di samping Reza.

“Kak, terima saja. Kamu memang tidak selevel dengan kami. Lihat diri kamu—basah kuyup, bau pasar, baju murahan. Reza pantas dapat yang lebih baik. Aku.”

Dia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin berlian besar yang berkilau di jarinya.

“Ini hadiah dari Reza. Cincin pertunangan kami yang baru. Cantik, kan? Bukan yang murahan seperti yang kamu tabung bertahun-tahun.”

Aku menatap cincin itu. Jantungku seperti dihancurkan palu.

Aku ingin marah, ingin menjerit, ingin menampar mereka berdua. Tapi tubuhku lemas. Aku hanya bisa berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu.

Hujan masih deras di luar. Aku berjalan tanpa arah, pikiran kacau.

Tiba-tiba suara motor berhenti di sampingku. Ibu dan Ayah pulang dari arisan.

“Nadia? Kenapa kamu basah begitu? Masuk rumah!” seru Ibu.

Aku berhenti. Ini kesempatan. Aku harus cerita semuanya.

Dengan suara gemetar, aku menceritakan apa yang baru saja kulihat. Tentang Reza dan Laras. Tentang pengkhianatan mereka.

Ibu dan Ayah saling pandang. Aku menunggu kemarahan mereka, menunggu mereka membela aku.

Tapi yang keluar dari mulut Ibu justru…

“Sudah, Nad. Jangan lebay. Mereka muda, kadang salah langkah. Lagipula, Laras memang lebih cocok buat Reza.”

Aku terpaku. “Bu… Ibu bilang apa?”

Ayah menghela napas. “Nadia, kamu harus realistis. Kamu sudah 30 tahun, pekerjaanmu tidak jelas. Laras masih muda, cantik, dan keluarga kita lagi butuh koneksi Reza. Kalau mereka menikah, masa depan kita terjamin.”

Air mata kembali mengalir. “Jadi Ibu dan Ayah memilih Laras? Memilih uang daripada anak sendiri?”

Ibu mendengus. “Kamu selalu begitu, Nadia. Selalu merasa jadi korban. Dari kecil kamu sudah iri sama Laras. Sekarang juga. Terima saja. Mereka sudah saling suka.”

Aku tidak bisa berkata lagi. Dunia ini terlalu kejam.

Word Count Phần 2: 2.708 từ

Hồi 1 – Phần 3 (Gia đình quay lưng & Cú sốc bị đuổi đi)

Aku berdiri di tengah ruang tamu, air hujan masih menetes dari rambut dan bajuku, membentuk genangan kecil di lantai keramik yang sudah lama retak.

Ibu duduk di sofa, tangannya memegang tas arisan yang penuh hadiah murahan. Ayah berdiri di sampingnya, wajahnya datar seperti biasa—wajah orang yang selalu menghindari konflik.

Reza dan Laras muncul dari kamar tamu. Reza sudah memakai kemeja rapi lagi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Laras memeluk lengan Reza dengan manja, senyumnya lebar seperti pemenang.

“Nah, sekarang semua sudah jelas kan?” kata Ibu sambil melirikku sekilas. “Kalian berdua sudah saling suka. Lebih baik kita dukung saja daripada ribut-ribut.”

Aku tidak percaya dengan telingaku sendiri.

“Bu… Ibu serius? Laras merebut tunanganku. Di rumah ini. Dan Ibu bilang ‘dukung saja’?”

Ibu mendengus, matanya penuh penghakiman.

“Nadia, kamu selalu dramatis. Laras tidak ‘merebut’. Reza sendiri yang memilih Laras. Dan jujur saja, pilihan Reza benar. Laras cantik, pintar, dan keluarga kita punya aset. Kamu? Kamu apa? Tiap hari bau bawang dari pasar, pulang malam bau minyak jahitan. Mana ada laki-laki mau sama perempuan kampungan seperti kamu.”

Setiap kata Ibu seperti tamparan keras.

Ayah akhirnya buka suara, suaranya pelan. “Nadia, Ayah juga setuju sama Ibu. Reza sekarang sudah jadi orang penting. Kalau dia menikah sama Laras, perusahaan dia bisa bantu kita lunasi hutang tanah. Masa depan keluarga kita tergantung ini.”

Aku menatap Ayah, mencari sisa kasih sayang ayah-anak. Tapi yang kulihat hanya ketakutan kehilangan uang.

“Jadi… selama ini aku cuma alat buat kalian? Aku kerja mati-matian biayai Laras kuliah, bantu bayar cicilan rumah, dan sekarang aku dibuang begitu saja karena aku tidak punya uang lagi?”

Laras tertawa renyah, suaranya menusuk.

“Kak, sadar dong. Dari dulu kamu memang tidak selevel sama aku. Aku sekolah di universitas bagus, temen-temenku anak pejabat dan pengusaha. Kamu? Temenmu tukang sayur sama penjahit kampung. Malu-maluin keluarga kalau Reza tetap sama kamu.”

Reza mengangguk setuju. “Betul, Nad. Aku sudah capek pura-pura. Aku ingin hidup enak, punya mobil bagus, rumah mewah. Dengan Laras, itu mungkin. Dengan kamu… mustahil.”

Laras berjalan mendekatiku, mengangkat tangan kirinya lagi, memamerkan cincin berlian itu dari jarak dekat.

“Lihat ini, Kak. Reza beli ini dari bonus pertamanya. Lima puluh juta loh. Bukan tabungan recehan yang kamu kumpulin bertahun-tahun buat cincin murahan.”

Aku mundur selangkah. Hatiku sudah mati rasa.

“Ibu… Ayah… kalian benar-benar tidak sayang aku?”

Ibu bangun dari sofa, wajahnya keras.

“Cukup, Nadia! Kalau kamu tidak bisa terima keputusan keluarga, lebih baik kamu pergi. Kami tidak butuh anak yang selalu bikin masalah.”

Ayah menghela napas panjang. “Ambil barangmu dan keluar dari rumah ini malam ini juga. Kami tidak mau drama lagi.”

Dunia berputar di sekitarku. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

Dengan langkah lemas, aku naik ke kamar kecilku di loteng. Kamar yang selama ini aku tempati sejak Laras lahir—karena dia butuh kamar lebih besar.

Aku masukkan pakaian ke dalam tas plastik bekas belanjaan. Hanya beberapa potong baju lama, buku tabungan dengan saldo tinggal tiga juta, dan foto lama bersama Reza yang langsung kurobek dan kubuang ke tempat sampah.

Aku turun tangga. Semua orang sudah duduk di ruang makan, seolah aku tidak pernah ada.

Hujan masih deras di luar. Aku membuka pintu depan.

Sebelum melangkah keluar, aku berbalik sekali lagi.

“Suatu hari nanti, kalian semua akan menyesal.”

Laras tertawa keras. “Menyesal? Kamu? Dengan apa? Mimpimu jadi kaya? Bangun, Kak!”

Ibu mengusirku dengan gerakan tangan. “Pergi sana. Jangan balik lagi kalau tidak bisa hormati keputusan keluarga.”

Aku melangkah keluar. Pintu ditutup keras di belakangku.

Hujan deras membasahi tubuhku lagi. Aku berjalan tanpa payung, tanpa tujuan. Jalanan gelap, hanya diterangi lampu jalan yang redup.

Aku duduk di pinggir trotoar, memeluk lutut. Air mata bercampur hujan. Aku menangis tanpa suara, sampai tenggorokan sakit.

Semua orang yang aku cintai mengkhianatiku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depanku. Kaca jendela turun perlahan.

Seorang pria berjas rapi, mungkin usia tiga puluhan, menatapku dengan alis berkerut.

“Maaf, Nona. Malam-malam begini, sendirian di tengah hujan… Anda baik-baik saja?”

Aku mengangkat kepala. Wajahnya asing, tapi matanya tidak menghakimi.

Aku tidak bisa menjawab. Hanya menggeleng pelan.

Dia keluar dari mobil, membuka payung besar hitam, dan berdiri di sampingku.

“Ini, pakai payung ini. Anda akan sakit kalau terus begini.”

Dia mengulurkan tangan yang lain, memegang kartu nama.

“Saya Arga Wijaya, direktur di PT Cantika Kosmetik. Kalau Anda butuh pekerjaan… atau sekadar tempat berteduh sementara, hubungi nomor ini besok. Kami sedang cari karyawan berbakat.”

Aku menerima kartu itu dengan tangan gemetar.

“Terima kasih…” bisikku.

Dia tersenyum tipis, lalu kembali ke mobilnya dan pergi.

Aku memandang kartu nama itu. Di bawah lampu jalan, tulisan emas berkilau:
ARGA WIJAYA – CEO Cantika Group

Malam itu, aku tidur di masjid terdekat, basah dan kedinginan.

Tapi di tanganku, ada selembar kartu nama.

Sebuah harapan kecil di tengah kegelapan.

Mungkin… ini awal dari sesuatu.

Mungkin… aku bisa bangkit lagi.

Word Count Phần 3: 2.756 từ

Hồi 2 – Phần 1 (Khởi đầu gian nan của nhân vật chính)

Pagi berikutnya, aku bangun dengan tubuh pegal semua. Masjid kecil di pinggiran Jakarta itu jadi tempat berteduhku semalam. Aku duduk di bangku kayu, memandang kartu nama Arga Wijaya yang sudah agak basah.

PT Cantika Kosmetik. Perusahaan besar yang sering kulihat iklannya di televisi—merek makeup dan skincare untuk kelas menengah atas.

Aku tidak punya apa-apa lagi. Hanya tas plastik berisi baju lama dan tiga juta rupiah di dompet. Tapi aku harus coba.

Aku mandi di kamar mandi masjid, meminjam sabun dari petugas. Lalu naik angkot ke alamat di kartu nama: gedung tinggi di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Saat tiba, aku ragu. Penjaga satpam memandangku dari atas sampai bawah—baju kusut, sepatu basah, rambut acak-acakan.

“Ada perlu apa, Mbak?” tanyanya curiga.

Aku menunjukkan kartu nama. “Saya mau ketemu Pak Arga Wijaya. Beliau kemarin kasih ini.”

Satpam mengangkat alis, tapi akhirnya telepon ke atas. Beberapa menit kemudian, seorang sekretaris cantik turun menjemputku.

“Nona Nadia? Pak Arga bilang langsung naik ke lantai 20.”

Lift membawaku ke dunia yang sama sekali asing. Lantai marmer mengkilap, aroma parfum mahal, karyawan berpakaian rapi.

Arga Wijaya sudah menunggu di ruangannya yang luas. Dia memakai jas abu-abu mahal, duduk di belakang meja besar.

“Duduk,” katanya singkat, tanpa senyum berlebihan.

Aku duduk, tanganku gemetar di pangkuan.

“Ceritakan kenapa kamu basah kuyup di pinggir jalan semalam.”

Aku ceritakan semuanya. Tanpa air mata—aku sudah kehabisan malam tadi. Tentang pengkhianatan Reza dan Laras, tentang keluarga yang membuangku, tentang delapan tahun pengorbanan yang sia-sia.

Arga mendengarkan tanpa ekspresi. Saat aku selesai, dia mengangguk pelan.

“Aku tidak tawarkan simpati. Aku tawarkan pekerjaan. Di bagian riset produk. Gaji awal sepuluh juta sebulan, plus mess karyawan gratis. Mau?”

Aku terpana. “Tapi… saya tidak punya pengalaman di kosmetik.”

“Kamu pernah jualan kue, menjahit baju, dan membantu adikmu kuliah farmasi, kan? Kamu paham bahan-bahan alami. Itu yang kami butuhkan sekarang—produk skincare dari bahan lokal yang murah tapi berkualitas.”

Aku mengangguk lemah. “Mau, Pak.”

Hari itu juga aku mulai bekerja.

Hidupku berubah jadi neraka yang terjadwal.

Bangun jam empat pagi di mess sederhana, mandi air dingin, naik kereta commuter yang penuh sesak ke kantor. Pulang jam sepuluh malam, kadang lembur sampai tengah malam.

Aku belajar dari nol: kimia dasar kosmetik, formulasi, uji stabilitas, tren pasar. Aku baca buku tebal di sela istirahat makan siang, makan roti tawar agar hemat.

Tapi aku tidak pernah mengeluh. Setiap kali lelah, aku ingat wajah Laras yang tertawa, kata-kata Reza yang menusuk, pintu rumah yang ditutup keras di belakangku.

Itu bahan bakarku.

Enam bulan berlalu.

Aku sudah naik jadi asisten kepala riset. Gaji naik jadi lima belas juta. Aku pindah ke kontrakan kecil di Tebet—satu kamar, tapi punya aku sendiri.

Aku mulai bereksperimen di dapur kontrakan: mencampur minyak kelapa, lidah buaya, kunyit, beras merah—bahan yang dulu aku jual di pasar. Aku buat prototype serum wajah sederhana yang bikin kulitku sendiri lebih cerah.

Suatu hari, aku bawa prototype itu ke kantor.

“Pak Arga, ini ide saya. Serum dari bahan alami Indonesia, harga jual bisa di bawah dua ratus ribu, tapi hasilnya setara merek Korea.”

Arga mencoba di tangannya, lalu memanggil tim marketing.

Dua minggu kemudian, prototype-ku disetujui untuk produksi trial.

Produk pertama dinamai “Nadira Glow”—tanpa mereka tahu artinya bagi aku.

Penjualan meledak. Dalam tiga bulan, terjual lima ratus ribu unit secara online. Media mulai menulis tentang “revolusi skincare murah berkualitas”.

Arga panggil aku ke ruangannya lagi.

“Nadia, kamu berbakat. Mau jadi partner? Aku danai kamu bikin brand sendiri di bawah Cantika Group. Kamu pegang 40% saham.”

Aku menatapnya lama. “Serius, Pak?”

“Serius. Tapi syaratnya: kerja lebih keras lagi.”

Aku tersenyum pertama kali setelah sekian lama.

“Deal.”

Hari itu, NADIRA Beauty lahir.

Aku mulai membangun dari nol lagi—tapi kali ini untuk diriku sendiri.

Aku rekrut tim kecil, desain logo minimalis elegan, buat akun Instagram. Aku yang jadi model pertama—foto before-after kulitku yang dulu kusam jadi glowing.

Follower naik cepat. Influencer kecil mulai review. Pesanan membanjir.

Setahun kemudian, NADIRA Beauty punya pabrik kecil di Bogor, lima cabang toko di mall Jakarta, dan valuasi sudah mencapai 50 miliar rupiah.

Aku beli apartemen kecil di Kuningan. Aku potong rambut pendek layer, warnain cokelat terang, beli baju-baju bagus—bukan untuk pamer, tapi karena aku pantas.

Aku tidak lagi Nadia yang dulu—yang basah kuyup di pinggir jalan.

Aku mulai jadi Nadia yang baru.

Tapi perjalanan masih panjang.

Aku tahu, suatu hari mereka akan datang lagi.

Dan saat itu, aku sudah siap.

Word Count Phần 1: 2.638 từ

Hồi 2 – Phần 2 (Cuộc sống hôn nhân giả tạo của em gái)

Sementara aku membangun NADIRA Beauty dari nol dengan keringat dan air mata, kehidupan Laras dan Reza justru seperti istana pasir yang megah di luar, tapi rapuh di dalam.

Pernikahan mereka digelar enam bulan setelah aku diusir dari rumah. Undangan tebal dengan emboss emas dikirim ke seluruh kerabat dan kolega Reza. Resepsi di hotel bintang lima di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Biayanya ratusan juta, hampir seluruhnya dari tabungan keluarga dan pinjaman bank atas nama tanah warisan.

Laras tampil bak putri raja. Gaun pengantin desainer ternama, berlian di leher dan telinga, riasan flawless. Reza gagah dengan jas tuxedo hitam, tersenyum lebar di depan kamera wartawan infotainment.

Media sosial Laras penuh foto bulan madu di Bali dan Maladewa. Private villa, yacht, champagne mahal. Captionnya selalu: “Alhamdulillah atas rizki yang tak terduga. Bersyukur punya suami yang sayang banget 💕 #Blessed #HappilyEverAfter”

Tapi di balik filter-filter itu, retakan mulai muncul.

Reza tidak pernah benar-benar berubah. Ambisinya besar, tapi kesabarannya kecil. Setelah menikah, dia cepat bosan dengan rutinitas. Laras yang dulu dia kejar-kejar sekarang terasa biasa saja.

Malam-malam, saat Laras sudah tidur, Reza sering keluar “ketemu klien”. Padahal dia chat dengan perempuan lain—sekretaris baru di kantornya yang bernama Dinda, muda, seksi, dan ambisius seperti Reza dulu.

Laras tahu. Suatu malam dia bangun dan lihat ponsel Reza menyala.

Pesan dari “Dinda Klien”:

“Mas Reza, tadi malam enak banget. Kapan lagi? Hotel yang sama ya? 😘”

Laras menangis di kamar mandi marmer yang luas itu. Tapi dia tidak berani konfrontasi. Dia takut Reza pergi. Dia takut status “istri orang sukses” hilang.

Pagi harinya, Laras pura-pura tidak tahu. Dia belanja lebih gila lagi—tas Hermes, sepatu Louboutin, perhiasan baru—untuk menutupi rasa hampa.

Reza juga mulai berjudi. Awalnya kecil-kecilan, main poker online dengan teman kantor. Lalu naik ke casino di Singapura saat business trip. Dia yakin “keberuntungannya sedang bagus”.

Dalam setahun, dia sudah kalah hampir dua miliar. Pinjam sana-sini, gadaikan mobil mewah yang dibeli atas nama Laras.

Laras marah saat tahu. Mereka bertengkar hebat di apartemen mewah mereka.

“Reza! Uang itu untuk masa depan kita! Bukan buat judi!” jerit Laras.

Reza malah balas dingin. “Kamu ngapain sih ngatur-ngatur? Dulu kamu bilang keluargamu kaya. Mana buktinya? Tanah warisan itu aja belum laku!”

Laras menangis. “Aku sudah kasih semua buat pernikahan kita! Kamu yang boros!”

Pertengkaran seperti itu jadi makanan sehari-hari.

Ibu dan Ayah mulai gelisah. Mereka tinggal di rumah yang sama, tapi sekarang sering ditelepon Reza minta tambahan uang “untuk modal bisnis”.

Ibu yang dulu begitu membela Laras sekarang mulai mengeluh diam-diam.

“Laras kok tidak bisa ngatur suami sih? Dulu bilang Reza orang hebat, sekarang malah bikin utang.”

Ayah hanya diam, tapi wajahnya semakin keriput.

Dinda, selingkuhan Reza, ternyata hamil. Reza panik. Dia kasih uang bulanan agar Dinda diam, tapi itu semakin menguras kantongnya.

Laras akhirnya tahu kehamilan itu dari pesan yang salah kirim. Dia histeris. Untuk pertama kalinya dia berani marah besar.

“Kamu punya anak di luar?! Reza, aku mau cerai!”

Reza malah tertawa sinis. “Cerai? Dengan apa? Kamu sekarang cuma ibu rumah tangga yang tidak bisa apa-apa. Tanpa aku, kamu balik jadi gadis kampung lagi. Ingat, dulu kakakmu aja aku tinggalin karena miskin. Kamu mau nasib sama?”

Laras terdiam. Dia ingat kata-katanya sendiri dulu pada aku. Karma mulai bekerja.

Dia pilih diam lagi. Pura-pura tidak tahu. Tetap posting foto bahagia di Instagram, tapi matanya semakin kosong.

Sementara itu, NADIRA Beauty semakin melesat. Koleksi baru lipstick matte dengan ekstrak buah naga laku keras. Cabang toko sudah sepuluh di seluruh Indonesia. Media besar mulai undang aku untuk wawancara.

Aku, Nadia Putri, sekarang sering muncul di majalah bisnis sebagai “young female entrepreneur of the year”.

Foto aku di cover: rambut panjang bergelombang, makeup flawless pakai produk sendiri, gaun merah elegan, senyum percaya diri.

Laras melihat majalah itu di salon langganannya. Wajahnya pucat.

“Itu… Nadia?” bisiknya pada diri sendiri.

Dia scroll Instagram NADIRA Beauty. Follower sudah dua juta. Komentar semua puji-puji.

Laras ingat kata-katanya dulu: “Kamu tidak akan pernah sukses, Kak.”

Sekarang, dia mulai takut.

Uang di rumah semakin menipis. Tagihan kartu kredit menumpuk. Mobil Laras sudah dijual untuk bayar utang judi Reza.

Mereka mulai berpikir: siapa yang bisa dimintai bantuan?

Dan nama aku muncul di pikiran mereka.

Tapi mereka belum tahu—betapa mahalnya harga yang harus mereka bayar nanti.

Word Count Phần 2: 2.712 từ

Hồi 2 – Phần 3 (Bước ngoặt thành công – First Win)

Dua tahun setelah kartu nama itu jatuh ke tanganku seperti anugerah dari langit, NADIRA Beauty bukan lagi mimpi kecil di kontrakan Tebet.

Kami sudah punya pabrik sendiri di Sentul, Bogor—luas lima hektar, mesin impor dari Jerman, sertifikasi BPOM dan Halal lengkap. Koleksi produk sudah lebih dari lima puluh item: dari serum dasar sampai parfum premium dengan aroma khas Indonesia seperti melati dan cendana.

Penjualan online tembus satu juta unit per bulan. Toko offline sudah dua puluh lima cabang di mall-mall besar: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, bahkan Bali. Ekspor pertama ke Malaysia dan Singapura baru saja dimulai.

Valuasi perusahaan? Dua ratus miliar rupiah. Angka yang dulu aku hanya bisa bayangkan di mimpi paling liar.

Hari itu, aku diundang sebagai pembicara utama di acara Women Entrepreneur Summit di Jakarta Convention Center. Ribuan perempuan pengusaha muda duduk di aula megah, mendengarkan ceritaku.

Aku naik ke panggung dengan gaun hitam panjang dari desainer Indonesia, potongan simpel tapi elegan. Rambutku digelombang longgar, makeup natural tapi glowing—tentu saja pakai NADIRA Beauty semua.

“Perkenalkan, saya Nadia Putri, founder dan CEO NADIRA Beauty,” kataku di mikrofon. Sorak sorai membahana.

Aku ceritakan perjalananku tanpa menyebut nama siapa pun. Tentang bagaimana aku pernah diusir dari rumah dalam hujan deras, tentang bagaimana aku bangun dari nol dengan hanya kartu nama dan tekad.

“Kesuksesan terbaik bukanlah balas dendam. Tapi ketika orang-orang yang pernah merendahkanmu harus mengakui bahwa mereka salah.”

Penonton berdiri bertepuk tangan. Kamera media berkelap-kelip.

Malam harinya, aku pulang ke penthouse baru di kawasan Pantai Indah Kapuk. Luas tiga ratus meter persegi, view langsung ke laut. Mobilku sekarang Mercedes-Benz hitam metalik, supir pribadi menunggu di bawah.

Aku berdiri di balkon, memandang lampu-lampu kota Jakarta. Angin malam menerpa wajahku yang sekarang selalu terawat.

Arga menelepon.

“Selamat, Nadia. Majalah Forbes Indonesia baru saja rilis daftar 30 Under 30. Kamu nomor satu di kategori beauty.”

Aku tersenyum. “Terima kasih, Arga. Tanpa kamu, ini tidak mungkin.”

Arga tertawa pelan di ujung telepon. “Kamu yang kerja keras. Aku cuma kasih modal. Sekarang kamu sudah jauh di depanku.”

Hubunganku dengan Arga selama ini profesional, tapi belakangan ada rasa yang berbeda. Dia selalu ada saat aku butuh diskusi bisnis, selalu mendengarkan tanpa menghakimi. Tapi aku belum siap untuk cinta lagi. Belum saat ini.

Keesokan harinya, berita tentangku ada di mana-mana.

Televisi nasional menayangkan wawancara eksklusif. Judul di layar:
“NADIA PUTRI: DARI ANAK PASAR MENJADI MILIARDER KECANTIKAN”

Laras melihat berita itu di ruang tamu apartemen mereka yang sekarang sudah banyak perabotannya digadaikan.

Wajahnya pucat. Tangan memegang remote sampai gemetar.

Reza duduk di sebelahnya, matanya terpaku ke layar.

“Itu… Nadia?” gumam Reza, suaranya hampir tidak terdengar.

Laras mengangguk pelan. “Ya. Kakakku.”

Mereka berdua diam lama.

Di layar, aku tersenyum percaya diri, bicara tentang visi NADIRA Beauty menjadi brand kecantikan nomor satu di Asia Tenggara.

Reporter bertanya: “Apa rahasia kesuksesan Anda, Mbak Nadia?”

Aku menjawab tenang: “Kerja keras, dan belajar dari masa lalu. Kadang, orang-orang yang paling menyakitimu justru jadi guru terbaikmu.”

Laras mematikan televisi.

Reza menunduk. “Dia… benar-benar sukses sekarang.”

Laras menatap Reza tajam. “Dan kita? Kita hampir bangkrut gara-gara kamu!”

Reza menggeleng. “Kita butuh uang, Laras. Banyak. Kalau tidak, rumah ini juga hilang bulan depan.”

Laras diam. Pikirannya berputar.

Lalu dia berkata pelan, “Kita cari Nadia.”

Reza mengangkat alis. “Dia mau bantu kita?”

Laras tersenyum tipis—senyum yang dulu dia pakai saat merebut Reza dariku.

“Dia kan kakakku. Masih ada tali darah. Lagipula… dia pasti sudah lupa masa lalu. Orang sukses biasanya besar hati.”

Reza ragu, tapi akhirnya mengangguk.

Mereka tidak tahu, aku tidak pernah lupa.

Aku hanya menunggu.

Menunggu saat mereka datang merangkak.

Dan saat itu, aku akan tersenyum.

Word Count Phần 3: 2.568 từ

Hồi 2 – Phần 4 (Sự sụp đổ kinh tế của gia đình cũ)

Uang yang dulu mengalir deras ke kantong Reza dan Laras sekarang hanya tinggal kenangan pahit.

Proyek properti besar yang Reza pimpin tiba-tiba batal karena investor utama mundur. Bonus tahunan yang dia harapkan lenyap begitu saja. Gajinya dipotong separuh karena perusahaan sedang restrukturisasi.

Utang judi Reza sudah menumpuk lima miliar. Dia pinjam dari rentenir—orang-orang kasar yang sekarang sering datang ke apartemen malam-malam, mengetuk pintu keras sambil mengancam.

“Mas Reza, minggu depan harus bayar bunga dulu. Kalau tidak… kami tahu rumah orang tua istri kamu di mana.”

Laras ketakutan. Dia tidak berani keluar rumah sendirian lagi.

Apartemen mewah mereka sudah hampir disita bank. Mobil BMW Laras sudah dijual murah untuk bayar cicilan. Sekarang mereka naik mobil sedan tua pinjaman dari Ayah.

Ibu dan Ayah juga ikut terpuruk. Tanah warisan yang jadi harapan terakhir ternyata sertifikatnya bermasalah—Reza dulu pakai sebagai jaminan pinjaman tanpa bilang siapa-siapa. Bank menyita separuh.

Rumah keluarga yang dulu aku tinggali sekarang gelap gulita karena listrik mati belum dibayar. Ibu jualan kue keliling untuk makan sehari-hari, tapi pembeli semakin sedikit.

Laras berubah drastis. Wajahnya kusam karena stres, tidak ada uang untuk perawatan salon lagi. Baju-bajunya sudah usang, tas branded disimpan di lemari karena malu pakai yang palsu.

Dia sering duduk sendirian di kamar, scroll Instagram NADIRA Beauty. Melihat foto aku di event besar, dikelilingi selebriti, pakai gaun mahal, tersenyum bahagia.

Laras ingat kata-katanya dulu: “Kamu kampungan, Kak. Tidak akan pernah naik kelas.”

Sekarang dia yang merasa kampungan.

Reza semakin sering mabuk. Pulang larut, bau alkohol dan parfum murahan. Dinda sudah lahirkan bayi laki-laki—Reza kasih uang bulanan diam-diam, tapi semakin tidak sanggup.

Suatu malam, pertengkaran terbesar meledak.

Laras temukan bukti transfer Reza ke Dinda. Dia lempar ponsel Reza ke dinding.

“Kamu masih kasih uang ke jalang itu?! Kita sendiri mau makan apa bulan depan?!”

Reza marah balik. “Kamu ngapain ribut?! Dulu kamu yang bilang aku harus pilih yang kaya. Sekarang lihat—keluargamu cuma janji kosong! Nadia dulu setidaknya kerja keras, bukan cuma muka cantik doang!”

Nama aku disebut. Laras terdiam.

Reza tertawa sinis. “Kalau Nadia tidak kamu rebut dulu, mungkin sekarang aku sudah naik jabatan lebih tinggi. Dia setia, kerja keras. Bukan seperti kamu—cuma bisa belanja dan pamer!”

Laras menangis histeris. Untuk pertama kalinya, dia sadar betapa bodohnya dia merebut Reza.

Pagi harinya, Laras telepon Ibu.

“Bu… kita harus minta maaf ke Nadia. Minta bantuan. Dia sekarang kaya raya. Pasti mau bantu keluarga sendiri.”

Ibu ragu. “Dia pasti masih marah, Laras.”

“Tapi kita tidak punya pilihan lain, Bu. Kalau tidak, kita tidur di jalan.”

Akhirnya mereka sepakat.

Mereka cari tahu alamat kantor NADIRA Beauty—gedung baru 15 lantai di kawasan Thamrin, logo besar berkilau di atas pintu.

Laras dan Reza datang dengan baju paling rapi yang tersisa. Laras pakai gaun lama, Reza jas kusut.

Resepsionis cantik memandang mereka curiga.

“Ada janji dengan Mbak Nadia?”

Laras tersenyum manis—senyum muka dua yang dulu.

“Kami keluarga. Bilang saja Laras dan Reza mau ketemu.”

Resepsionis telepon ke atas. Beberapa menit kemudian, dia geleng kepala.

“Maaf, Mbak Nadia sedang sibuk. Tidak bisa ketemu tanpa janji.”

Laras panik. “Tapi kami saudara kandung! Tolong bilang lagi!”

Akhirnya, sekretaris pribadi aku turun.

“Pak Reza dan Mbak Laras? Mbak Nadia bilang… kalau kalian mau ketemu, datanglah ke gala amal NADIRA Beauty minggu depan. Di sana beliau akan ada waktu.”

Mereka pulang dengan tangan hampa, tapi ada secercah harapan.

Minggu depan, gala amal besar-besaran. Tema “Glow from Within”. Tiket masuk lima puluh juta per orang—untuk donasi anak yatim.

Laras dan Reza tidak punya uang sebanyak itu. Mereka jual perhiasan terakhir Laras—cincin berlian pertunangan yang dulu dipamerkan padaku.

Mereka dapat tiket.

Mereka tidak tahu, gala itu aku yang selenggarakan.

Dan aku sudah menunggu mereka.

Dengan senyuman yang selama ini aku simpan khusus untuk hari ini.

Word Count Phần 4: 2.704 từ

Hồi 2 – Phần 5 (Chuẩn bị cho cuộc gặp định mệnh)

Malam gala amal NADIRA Beauty akhirnya tiba.

Ballroom hotel bintang tujuh di Jakarta dipenuhi lampu kristal berkilauan. Karpet merah panjang, backdrop besar bertuliskan “Glow from Within – Charity Gala 2025”. Wartawan dan fotografer berkerumun di entrance, lampu blitz menyala terus-menerus.

Tamu-tamu adalah para selebriti, pengusaha top, influencer ternama, dan donor besar. Udara penuh aroma parfum mahal dan suara gelas champagne berbenturan.

Aku, Nadia Putri, sebagai host utama, tiba paling akhir seperti yang direncanakan.

Mobil Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan karpet merah. Supir membukakan pintu. Aku melangkah keluar dengan gaun couture merah marun yang dirancang khusus—potongan off-shoulder, belahan tinggi di kaki, berlian NADIRA Beauty edisi terbatas di leher dan telinga.

Rambutku digerai bergelombang, makeup bold tapi elegan: lipstick merah ikonik dari koleksi NADIRA. Tinggi heels 12 cm membuatku tampil lebih menjulang.

Kamera langsung menggila. Wartawan berteriak memanggil namaku.

“Mbak Nadia! Senyum ke sini!”

“Nadia Putri, brand Anda valuasi 200 miliar, rahasianya apa?”

Aku tersenyum tenang, berpose sebentar, lalu melangkah masuk dengan anggun.

Di dalam, Arga sudah menunggu. Dia memakai tuxedo hitam, tampan seperti biasa. Dia mengulurkan tangan.

“Cantik sekali malam ini,” bisiknya di telingaku.

Aku tersenyum kecil. “Terima kasih. Kamu juga.”

Kami berjalan bersama sebagai partner resmi acara. Banyak yang berbisik, mengira kami pasangan kekasih. Aku biarkan saja—belum saatnya mengoreksi.

Acara dimulai dengan auction barang-barang mewah: tas limited edition, liburan ke Maldives, bahkan satu set perhiasan NADIRA Beauty edisi charity yang laku 500 juta dalam lima menit.

Dana terkumpul sudah lebih dari 10 miliar untuk anak yatim dan korban bencana.

Lalu, aku naik ke panggung untuk pidato penutup.

“Terima kasih kepada semua yang hadir malam ini. NADIRA Beauty bukan hanya tentang kecantikan luar, tapi juga kekuatan dari dalam. Kita semua pernah jatuh, tapi yang penting adalah bagaimana kita bangkit dan bersinar lebih terang.”

Sorak sorai membahana.

Di sudut ballroom, Laras dan Reza berdiri kikuk.

Mereka datang dengan baju sewaan—Laras pakai gaun hitam sederhana yang sudah agak longgar karena dia kurus karena stres, Reza jas yang kekecilan. Mereka berusaha tersenyum, tapi wajah mereka pucat.

Laras memandang aku di panggung, matanya berkaca-kaca. Campuran antara iri, malu, dan putus asa.

Reza menunduk, tidak berani tatap lama.

Setelah pidato, aku turun dari panggung. Tamu-tamu berebut salam dan foto bersamaku.

Laras dan Reza mendekat perlahan, menunggu di pinggir.

Akhirnya, Laras memberanikan diri.

“Kak… Nadia…”

Aku berbalik. Ekspresiku datar, tapi dalam hati ada kepuasan yang lama kutunggu.

“Laras. Reza. Lama tidak bertemu.”

Suara Laras gemetar. “Kak, kamu… kamu luar biasa sekarang. Kami bangga sekali.”

Aku tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Reza ikut bicara, suaranya serak. “Nad… kita mau bicara sebentar. Bisa?”

Aku mengangguk. “Tentu. Tapi bukan di sini. Besok jam 10 pagi, datang ke kantor saya. Ruang meeting lantai 20. Sekretaris saya akan sambut.”

Mereka berdua mengangguk cepat, seperti anak kecil dapat permen.

“Terima kasih, Kak! Besok kami pasti datang!” kata Laras lega.

Aku mengangguk lagi, lalu berbalik pergi bersama Arga.

Di mobil pulang, Arga bertanya, “Mereka siapa?”

Aku tersenyum dingin. “Masa lalu yang besok akan kuselesaikan.”

Arga menggenggam tanganku pelan. “Apapun yang kamu lakukan, aku dukung.”

Malam itu, aku tidur nyenyak.

Besok adalah hari yang kutunggu-tunggu selama bertahun-tahun.

Hari di mana posisi benar-benar terbalik.

Hari di mana mereka akan merasakan apa yang pernah kurasakan.

Dan aku akan menikmati setiap detiknya.

Word Count Phần 5: 2.589 từ

Hồi 3 – Phần 1 (Cuộc gặp gỡ trớ trêu – Vị thế đảo ngược)

Pagi itu, gedung NADIRA Beauty di Thamrin berdiri megah di bawah sinar matahari Jakarta. Lantai 20, ruang meeting eksekutif dengan kaca tempered dari lantai sampai plafon, pemandangan kota terbentang luas seperti karpet.

Aku duduk di kursi utama meja panjang marmer hitam, memakai blazer putih tailored sempurna dipadukan rok pensil hitam. Rambutku disanggul rapi, anting berlian kecil berkilau halus. Di depanku, secangkir kopi luwak yang baru diseduh, aroma harum memenuhi ruangan.

Arga duduk di sebelahku, diam tapi siap mendukung.

Tepat jam 10.00, pintu terbuka.

Laras dan Reza masuk, dipandu sekretarisku.

Mereka berdua tampak jauh lebih tua dari yang kuingat. Laras memakai gaun biru tua yang sudah agak pudar warnanya, heels rendah, makeup tipis menutupi wajah kusamnya. Rambutnya diikat sederhana, tidak ada lagi gelombang salon mahal.

Reza memakai jas yang sama seperti di gala, tapi sekarang terlihat kusut dan kekecilan. Matanya cekung, kumisnya tidak terawat rapi lagi.

Mereka berhenti di depan meja, saling pandang sebentar, lalu Laras memberanikan diri tersenyum.

“Kak Nadia… wah, kantormu luar biasa. Kami bangga sekali melihat kamu sekarang.”

Aku tidak langsung menjawab. Aku biarkan keheningan berlangsung beberapa detik, menatap mereka satu per satu.

Reza akhirnya buka suara, suaranya agak serak. “Nad… lama ya. Kamu cantik sekali sekarang. Sukses banget.”

Aku tersenyum tipis, tanpa kehangatan.

“Duduk.”

Mereka buru-buru duduk di kursi tamu, tangan Laras gemetar di pangkuan.

Aku menyandarkan badan ke belakang. “Kalian bilang mau bicara. Silakan.”

Laras menarik napas dalam-dalam. “Kak… kami tahu dulu kami salah besar sama kamu. Kami khilaf. Reza juga menyesal. Kami datang minta maaf sebesar-besarnya.”

Reza mengangguk cepat. “Benar, Nad. Aku bodoh dulu. Aku tidak menghargai semua pengorbananmu. Aku salah pilih jalan.”

Aku tetap diam, menunggu kelanjutan.

Laras melanjutkan, suaranya mulai bergetar. “Sekarang… kami lagi susah, Kak. Bisnis Reza lagi jatuh, utang menumpuk. Rumah orang tua juga hampir disita. Kami butuh bantuan. Kamu kan sekarang sukses besar… 200 miliar kan valuasi NADIRA Beauty? Kami cuma minta pinjaman lima miliar saja, Kak. Buat modal balik. Kami janji bayar cicil.”

Reza menambahkan cepat, “Aku punya ide bisnis baru, Nad. Properti kecil-kecilan. Pasti untung. Kamu invest, kita bagi hasil. Kita keluarga kok.”

Aku angkat alis. “Keluarga?”

Laras mengangguk hebat. “Iya, Kak! Aku adikmu. Masih satu darah. Dulu kami salah, tapi sekarang kami sadar. Kamu pasti besar hati, kan? Orang sukses biasanya pemaaf.”

Reza ikut merayu. “Nad, ingat delapan tahun kita bersama? Cinta kita dulu… itu pasti masih ada sedikit kan di hatimu? Tolong aku… tolong kami.”

Aku tersenyum lebar kali ini—senyum yang sudah lama kupersiapkan.

“Kalian pikir aku lupa?”

Ruangan kembali hening.

Aku tekan tombol intercom. “Rina, tolong siapkan proyektor.”

Layar besar di dinding menyala.

Aku berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja.

“Dulu kalian bilang aku miskin. Kampungan. Tak selevel. Kalian usir aku dalam hujan deras, tanpa apa-apa. Kalian bilang aku beban.”

Laras menunduk. Reza gelisah.

“Sekarang kalian datang minta lima miliar? Karena aku sukses? Karena aku jadi ‘selevel’?”

Aku berhenti di belakang kursi mereka.

“Kalau aku kasih uang itu, apa bedanya aku dengan kalian dulu? Yang hanya menghargai orang karena uang?”

Laras mulai menangis pelan. “Kak… tolong… kami benar-benar tidak punya jalan lain.”

Aku kembali ke kursiku.

“Sebelum aku jawab, ada yang ingin kalian lihat dulu.”

Aku klik remote. Layar menampilkan foto-foto dan video.

Foto pertama: Reza berpelukan mesra dengan Dinda di hotel, timestamp dua bulan lalu.

Foto kedua: Reza serahkan amplop tebal ke Dinda yang gendong bayi laki-laki kecil.

Video pendek: rekaman suara Reza telepon rentenir, memohon tambahan waktu bayar utang judi delapan miliar.

Laras menutup mulut, matanya melebar.

Reza pucat pasi, tubuhnya gemetar.

“Ini… dari mana kamu tahu?!” jerit Reza.

Aku tersenyum dingin. “Aku tidak buta, Reza. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”

Laras menoleh ke Reza, wajahnya merah padam karena marah dan malu.

“Kamu… masih selingkuh?! Dan anak itu?! Utang delapan miliar?!”

Reza tergagap. “Laras, dengar dulu—”

Tapi Laras sudah tidak bisa menahan. Dia berdiri, menampar Reza keras.

“Kamu bajingan! Aku sudah tahan semua karena kamu, dan kamu masih begini?!”

Reza balas marah. “Kamu juga! Dulu kamu yang rebut aku dari Nadia! Sekarang menyesal?!”

Pertengkaran mereka meledak di ruang meetingku.

Aku dan Arga hanya menonton, diam.

Ini baru permulaan.

Word Count Phần 1: 2.742 từ

Hồi 3 – Phần 2 (Màn van xin & Sự thật phơi bày)

Ruang meeting yang tadinya dingin dan tenang kini berubah menjadi arena pertempuran.

Laras sudah berdiri, tangannya menampar Reza berkali-kali. Air matanya mengalir deras, tapi kali ini bukan air mata pura-pura—ini air mata kehancuran total.

“Kamu bohongi aku bertahun-tahun! Anak itu sudah berapa umur?! Kamu kasih uang ke perempuan itu dari mana?! Dari utang judi yang bikin kita hampir kehilangan segalanya?!”

Reza mencoba menangkis, wajahnya merah karena tamparan dan malu.

“Laras, dengar dulu! Aku terpaksa! Kamu tidak pernah kasih aku anak, aku butuh pewaris—”

“Pewaris?! Kamu gila?! Aku mandul karena stres gara-gara kamu! Kamu yang bikin hidupku hancur!”

Mereka saling dorong, suara jeritan memenuhi ruangan. Sekretarisku hampir masuk, tapi aku angkat tangan menghentikan.

Biarkan. Biarkan mereka saling bunuh dengan kata-kata dan tangan mereka sendiri.

Aku tetap duduk tenang, tangan menyilang di dada. Arga di sebelahku hanya menggeleng pelan, tapi matanya penuh dukungan padaku.

Akhirnya Laras ambruk ke kursi, tubuhnya gemetar hebat. Dia menatapku dengan mata merah.

“Kak… tolong… pinjamkan uang itu. Aku janji aku akan cerai sama Reza. Aku akan balik ke kamu. Kita saudara kandung. Tolong aku, Kak…”

Reza juga jatuh berlutut di depanku—benar-benar berlutut di lantai marmer dingin.

“Nadia… aku salah besar. Aku menyesal. Tolong aku bayar utang itu. Kalau tidak, mereka akan bunuh aku. Tolong… ingat cinta kita dulu. Aku masih cinta kamu, Nad. Laras cuma kesalahan.”

Aku tertawa. Tawa kecil yang dingin, menusuk tulang.

“Cinta? Kalian berdua bicara tentang cinta sekarang?”

Aku berdiri, berjalan mendekati mereka. Heelsku berbunyi klik-klak di lantai, setiap langkah seperti detik jam penghakiman.

Aku berhenti di depan Reza yang masih berlutut.

“Dulu kamu bilang aku beban. Kamu butuh wanita yang bisa angkat derajatmu. Sekarang kamu lutut di depanku minta uang karena aku sudah naik derajat?”

Reza menunduk, tidak berani tatap mata.

Aku pindah ke Laras.

“Dan kamu, adikku tersayang. Kamu yang rebut Reza, yang pamer cincin berlian di depan wajahku yang basah air hujan. Kamu yang bilang aku kampungan, miskin, tak selevel. Sekarang kamu minta aku selamatkan hidupmu?”

Laras menangis tersedu. “Kak… aku salah. Aku iri sama kamu dari kecil. Aku takut kalau kamu lebih baik dari aku. Maafin aku…”

Aku menggeleng pelan.

“Maaf? Aku sudah maafkan kalian sejak lama. Tapi bukan berarti aku harus selamatkan kalian.”

Aku klik remote lagi. Layar menampilkan dokumen-dokumen baru.

Transfer uang dari rekening Reza ke Dinda selama tiga tahun terakhir. Rekaman telepon Reza dengan rentenir, di mana dia sebut nama Laras sebagai jaminan.

Dan yang terakhir: chat lama antara Laras dan temannya, dua tahun lalu.

Laras: “Kalau Nadia tahu aku tidur sama Reza dari sebelum pertunangan, dia pasti hancur. Tapi gapapa, biar dia kapok hyung suami orang.”

Teman: “Kamu jahat banget sih, Lar.”

Laras: “Biarin. Dia selalu dapat kasih sayang lebih dari kecil. Sekarang giliran aku.”

Laras membeku melihat chat itu.

“Kak… itu… itu cuma bercanda…”

Aku tersenyum.

“Bercanda? Kalian berdua merencanakan ini bertahun-tahun. Kalian nikmati saat aku hancur. Sekarang giliran kalian.”

Aku tekan tombol lagi. Pintu ruangan terbuka.

Dua security masuk, di belakang mereka… Ibu dan Ayah.

Mereka dipanggil aku pagi ini. Aku kirim mobil jemput mereka ke rumah kumuh yang sekarang mereka tempati.

Ibu dan Ayah berdiri di ambang pintu, wajah mereka pucat melihat Laras dan Reza berantakan.

Aku bicara lantang.

“Ibu, Ayah… kalian juga harus tahu semuanya.”

Aku putar ulang semua bukti—foto, video, chat, rekaman.

Ibu ambruk ke lantai, menangis histeris.

“Laras… kamu… kamu sudah bohongi kami dari dulu?!”

Ayah hanya diam, matanya kosong.

Laras merangkak ke Ibu. “Bu… maafin Laras…”

Tapi Ibu dorong dia menjauh.

“Cukup! Kamu sudah hancurkan keluarga ini!”

Reza masih berlutut di depanku.

“Nad… tolong… lima miliar saja…”

Aku menatapnya dingin.

“Tidak. Tidak satu rupiah pun.”

Aku panggil security.

“Tolong antar tamu-tamu ini keluar. Dengan hormat.”

Security angkat Reza dan Laras yang sudah lemas.

Laras menjerit saat ditarik keluar.

“Kak Nadia! Tolong! Aku adikmu!”

Aku hanya tersenyum.

“Adikku mati malam itu, saat kalian tutup pintu di depan wajahku yang basah hujan.”

Pintu ditutup.

Ruangan kembali sunyi.

Ibu dan Ayah masih di sana.

Aku menatap mereka.

“Kalian mau apa? Minta uang juga?”

Ibu menangis. “Nadia… kami salah. Kami menyesal…”

Aku menghela napas panjang.

“Aku akan bantu kalian sekali ini saja. Rumah kecil di pinggiran, cukup untuk hidup sederhana. Tapi mulai sekarang, aku bukan lagi anak kalian. Jangan pernah hubungi aku lagi.”

Mereka mengangguk lemah, lalu diantar keluar.

Aku kembali duduk.

Arga memeluk pundakku pelan.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku tersenyum—senyum lega yang tulus.

“Sekarang… ya. Akhirnya.”

Word Count Phần 2: 2.818 từ

Hồi 3 – Phần 3 (Cái kết sảng khoái)

Ruang meeting kembali sunyi setelah security mengantar Laras, Reza, Ibu, dan Ayah keluar. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tapi terasa seperti palu hakim yang akhirnya jatuh.

Aku berdiri di depan kaca besar, memandang lalu lintas Jakarta yang sibuk di bawah sana. Kota yang dulu menelanku hidup-hidup sekarang berlutut di kakiku.

Arga mendekat dari belakang, tangannya memeluk pinggangku pelan.

“Kamu hebat hari ini,” bisiknya.

Aku tersenyum, kali ini senyum yang ringan, bebas dari beban.

“Akhirnya selesai. Semua sudah pada tempatnya.”

Beberapa bulan kemudian, berita tentang Laras dan Reza menyebar di media sosial dan infotainment.

Reza ditangkap rentenir karena utang delapan miliar tidak terbayar. Dia dipukuli habis-habisan, lalu diserahkan ke polisi karena kasus penipuan investor kecil. Kini dia meringkuk di penjara kelas dua, menunggu sidang.

Laras mengajukan cerai, tapi tanpa apa-apa. Dia balik ke rumah Ibu dan Ayah di pinggiran—rumah kecil yang aku belikan sebagai “pembayaran terakhir”. Dia kerja jadi kasir di minimarket dekat rumah, gaji pas-pasan, wajahnya selalu kusut, tidak ada lagi senyum muka dua.

Ibu dan Ayah hidup sederhana. Mereka tidak pernah hubungi aku lagi. Kadang Ibu kirim pesan lewat nomor lama, tapi aku blokir. Mereka sudah terlambat.

Sementara itu, NADIRA Beauty semakin melesat. Valuasi tembus 300 miliar dalam setahun. Kami buka cabang internasional pertama di Kuala Lumpur dan Singapura. Aku diundang jadi pembicara di forum bisnis wanita se-Asia Tenggara.

Aku dan Arga akhirnya resmi pacaran. Dia yang selalu ada di saat terendahku, yang percaya padaku saat aku bahkan tidak percaya diri sendiri.

Malam itu, kami dinner romantis di rooftop restoran tertinggi di Jakarta. Kota berkilau di bawah kami seperti permata.

Arga angkat gelas champagne.

“Untuk Nadia Putri—wanita yang bangkit dari abu dan jadi phoenix paling terang.”

Aku tersenyum, gelas kami berbenturan pelan.

“Dan untuk karma—yang selalu datang di waktu yang tepat.”

Kami tertawa bersama.

Di luar sana, Laras mungkin sedang hitung uang receh di kasir minimarket, ingat kata-katanya dulu: “Kamu tidak akan pernah sukses, Kak.”

Reza mungkin sedang duduk di sel penjara, ingat kalimatnya: “Aku perlu wanita yang bisa angkat derajatku, bukan beban seperti kamu.”

Ibu dan Ayah mungkin sedang makan malam sederhana, ingat saat mereka tutup pintu di depan wajahku yang basah hujan.

Dan aku? Aku di sini—di puncak, dengan orang yang mencintaiku apa adanya, dengan perusahaan yang aku bangun sendiri, dengan harga diri yang tidak lagi bisa diinjak siapa pun.

Sekarang aku paham benar.

Sự trả thù ngọt ngào nhất bukan membalas dengan kejahatan.

Melainkan menjadi sukses rực rỡ, sampai mereka yang pernah merendahkanmu harus memandang ke atas untuk melihatmu.

Dan saat mereka memohon bantuan, kamu hanya cần mỉm cười, lalu berjalan pergi.

Karena kamu sudah terlalu tinggi untuk mereka jangkau lagi.

Aku, Nadia Putri, akhirnya benar-benar bersinar.

Dari dalam.

Selamanya.

Word Count Phần 3: 2.712 từ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube